anjing tolol berlari-lari di kali
gerah di jeruji tuan pun pergi
asyik sekali tuan santai di bali
tingkah busukmu, tayang di televisi
buang uang bagai buang sampah
sogok petinggi, jalan lancar tanpa resah
hukum dimana?
Tasikmalaya, 17 November 2010
Kamis, 17 Mei 2012
Fragmen Pelita Padam
pelita itu mulai padam
sumbu kering tak berminyak
cahaya hilang
gelap, aku sendiri
merepih...
air itu belum sampai ke muara
sampan masih terdiam di dermaga
bergoyang diam menikmati irama
musik-musik aransemen duka
jeritan hati terus bersuara
aku tetap menyanyikan lagu cinta
semua isi hati, yang terpahat janji
yang belum selesai di tepati
Tasikmalaya, 18 November 2010
sumbu kering tak berminyak
cahaya hilang
gelap, aku sendiri
merepih...
air itu belum sampai ke muara
sampan masih terdiam di dermaga
bergoyang diam menikmati irama
musik-musik aransemen duka
jeritan hati terus bersuara
aku tetap menyanyikan lagu cinta
semua isi hati, yang terpahat janji
yang belum selesai di tepati
Tasikmalaya, 18 November 2010
Mabuk
Buat; Sri Belsa Wahyuni
(diambil dari diary masa-masa SMA)
my dear, aku ceritakan;
sepi menempuh kota-kota tua tanpa penghuni
hanya ada aku sendiri. pada diary aku tuliskan
masa-masa putih abu, perkenalan hangat.
lintingan ganja di saku baju
sebotol wisky di selipkan di celana
kau tebar senyum padaku, mesra.
di depan sebuah WC aku goda kamu
kata-kata gombal pemabuk bermekaran lepas.
peri-peri cantik berputar di kepala,
longsoran penasaran menimpa hati.
botol kosong, tetesan terakhir aku cari siapa kamu!
bel sekolah nyaring kering
aktivitas kebodohan berakhir
aku pergi...menuju sebuah pasar, menunggumu!
pada mikro bus, percakapan awal di mulai
bau alkohol masih pekat menempel di jurang bibir
canda tawa menghiasi perjalanan kita
bunga-bunga kuncup bermekaran
genggaman tangan mengayun dalam ikrar
kita bersatu, dalam desakan penumpang...
Tasikmalaya, 18 November 2009
(diambil dari diary masa-masa SMA)
my dear, aku ceritakan;
sepi menempuh kota-kota tua tanpa penghuni
hanya ada aku sendiri. pada diary aku tuliskan
masa-masa putih abu, perkenalan hangat.
lintingan ganja di saku baju
sebotol wisky di selipkan di celana
kau tebar senyum padaku, mesra.
di depan sebuah WC aku goda kamu
kata-kata gombal pemabuk bermekaran lepas.
peri-peri cantik berputar di kepala,
longsoran penasaran menimpa hati.
botol kosong, tetesan terakhir aku cari siapa kamu!
bel sekolah nyaring kering
aktivitas kebodohan berakhir
aku pergi...menuju sebuah pasar, menunggumu!
pada mikro bus, percakapan awal di mulai
bau alkohol masih pekat menempel di jurang bibir
canda tawa menghiasi perjalanan kita
bunga-bunga kuncup bermekaran
genggaman tangan mengayun dalam ikrar
kita bersatu, dalam desakan penumpang...
Tasikmalaya, 18 November 2009
Rabu, 16 Mei 2012
[Lyric] Hallo Bandoeng – Wieteke van Dort
‘t Oude moedertje zat bevend
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon
refrain:
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
“Dag liefste jongen”, zegt zij met een snik
“Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?”
Dan zegt ze alleen:
“Ik verlang zo erg naar jou!”
Lieve jongen, zegt ze teder
Ik heb maandenlang gespaard
‘t Was me om jou te kunnen spreken
M’n allerlaatste gulden waard
En ontroerd zegt hij dan:
“Moeder Nog vier jaar, dan is het om
Oudjelief, wat zal ‘k je pakken
Als ik weer in Holland kom!”
refrain
“Jongenlief”, vraagt ze, “hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?”
“Best hoor”, zegt hij, “en we spreken
Elke dag hier over jouEn m’n kleuters zeggen ‘s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret”
refrain
“Wacht eens, moeder”, zegt hij lachend“
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoe lief, tabeh, tabeh!”
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:“O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…
”En dan valt ze wenend neer
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
Ze antwoordt niet.Hij hoort alleen ‘n snik“
Hallo! Hallo!…” klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: “Tabeh”
Op het telegraafkantoor
Vriend’lijk sprak de ambt’naar
Juffrouw, aanstonds geeft Bandoeng gehoor
Trillend op haar stramme benen
Greep zij naar de microfoon
En toen hoorde zij, o wonder
Zacht de stem van hare zoon
refrain:
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
“Dag liefste jongen”, zegt zij met een snik
“Hallo, hallo!
Hoe gaat het oude vrouw?”
Dan zegt ze alleen:
“Ik verlang zo erg naar jou!”
Lieve jongen, zegt ze teder
Ik heb maandenlang gespaard
‘t Was me om jou te kunnen spreken
M’n allerlaatste gulden waard
En ontroerd zegt hij dan:
“Moeder Nog vier jaar, dan is het om
Oudjelief, wat zal ‘k je pakken
Als ik weer in Holland kom!”
refrain
“Jongenlief”, vraagt ze, “hoe gaat het Met je kleine bruine vrouw?”
“Best hoor”, zegt hij, “en we spreken
Elke dag hier over jouEn m’n kleuters zeggen ‘s avonds
Voor het slapen gaan een gebed
Voor hun onbekende opoe
Met een kus op jouw portret”
refrain
“Wacht eens, moeder”, zegt hij lachend“
‘k Bracht mijn jongste zoontje mee”
Even later hoort ze duidelijk
“Opoe lief, tabeh, tabeh!”
Maar dan wordt het haar te machtig
Zachtjes fluistert ze:“O Heer Dank dat ‘k dat heb mogen horen…
”En dan valt ze wenend neer
“Hallo! Bandoeng!”
“Ja moeder hier ben ik!”
Ze antwoordt niet.Hij hoort alleen ‘n snik“
Hallo! Hallo!…” klinkt over verre zee
Zij is niet meer en het kindje roept: “Tabeh”
Kasomalang Farm
kusaksikan senyum manis nan cantik, saat hujan turun.
gerombolan katak mengirim irama-irama dingin.
kehadapan kita, terasa mengigil menggetarkan bibir.
rinai-rinai dingin berjatuhan kemuka tanah.
dari beranda, ku tatap perkebunan nanas yang menguning menjadi pembatas desa.
kita memulai percakapan awal dan getar hati yang mulai menggelegar.
namamu cuaca dalam kehidupan. awan, mengirimkan hujan saat jiwa mengering kehausan.
tak kenal waktu kau berkahi air cintaku.
Subang, 2011
gerombolan katak mengirim irama-irama dingin.
kehadapan kita, terasa mengigil menggetarkan bibir.
rinai-rinai dingin berjatuhan kemuka tanah.
dari beranda, ku tatap perkebunan nanas yang menguning menjadi pembatas desa.
kita memulai percakapan awal dan getar hati yang mulai menggelegar.
namamu cuaca dalam kehidupan. awan, mengirimkan hujan saat jiwa mengering kehausan.
tak kenal waktu kau berkahi air cintaku.
Subang, 2011
[Haibun] Blues Panjang Umur
Sebatang lilin
Bercahaya dalam jiwa
Pena menulis
Melukis umur diri
Pada jantung sang pria
diantara buku-buku berdebu dosa
dan jiwa melontarkan setumpuk pertanyaan
rambut hitam belum memutih, aku masih muda!
kata siapa aku tua?
malam ini aku telanjang dada
menari salsa diantara jajakan pelacur muda
terbukti, aku muda dan aku perjaka!
umur dalam secangkir kopi
cita-cita dalam hisapan tembakau
teman setia dalam hidup nyata, seirama
Sebuket bunga
Sepucuk surat cinta
Dari siapa?
Otak berputar liar
Makasih ku ucapkan
Jatinangor, 06 April 2011
Bercahaya dalam jiwa
Pena menulis
Melukis umur diri
Pada jantung sang pria
diantara buku-buku berdebu dosa
dan jiwa melontarkan setumpuk pertanyaan
rambut hitam belum memutih, aku masih muda!
kata siapa aku tua?
malam ini aku telanjang dada
menari salsa diantara jajakan pelacur muda
terbukti, aku muda dan aku perjaka!
umur dalam secangkir kopi
cita-cita dalam hisapan tembakau
teman setia dalam hidup nyata, seirama
Sebuket bunga
Sepucuk surat cinta
Dari siapa?
Otak berputar liar
Makasih ku ucapkan
Jatinangor, 06 April 2011
Selasa, 15 Mei 2012
Di Amsterdam
Apa yang tersembunyi dalam tetesan air kelu? Hujan menjadi cadar raut kita.
Di Amstel, senja memilin tubuh langit yang jelas tak sama. Tapi tidak dengan kita, mengepal-ngepal remah roti untuk pakan merpati yang lapar.
Di depan Multatuli, perahu-perahu melintas membawa seonggok doa terbaik. Kanal, alur tulus menuju tujuan. Aku ingin berlayar menuju Hindia.
Aku takkan sampai ke Hindia, musim penghujan dengan gelegar petir mengundang badai. Di dermaga, aku menunggu musim baru di perahu tua.
Ku kirim pesan telepon: "Jika waktu adalah setia, setialah untukku tak mengenal waktu. Jika waktu adalah khianat, pergilah tanpa ucapan salam"
Setangkai hujan, semekar tulip. Dalam tuk-tuk suara knalpot mengetuk-ngetuk. Ya ini rindu, sesaat sentuh ingatan melintas kilat.
Kini tibalah perjalananku. Aku menemui penyair-penyair eksil. Mereka memetakan cinta Indonesia Raya, tapi cinta mereka tak pernah hilang komposisinya.
Hujan menemani percakapan kami, mungkin sebentar lagi reda. Dan kota mana yang harus aku singgahi untuk menempuh arah-mu?
Aku menghapus airmata, yang setiap masa-nya bercerita tentang kamu. Seperti hari ini, injury time aku menemui masa yang baru.
Maafkan aku, jalan menuju Hindia belum sempat terpikir kata-kata. Dengan Gipsy yang dinyanyikan pemusik Rumania menenangkanku dengan sederhana.
Aku akan disini! Takkan kutapaki Schipol, atau mendayung perahu tua untuh sampai Hindia. Aku yang slalu merindukanmu, semoga kau pahami kenapa aku disini!
Amsterdam, 2009
Di Amstel, senja memilin tubuh langit yang jelas tak sama. Tapi tidak dengan kita, mengepal-ngepal remah roti untuk pakan merpati yang lapar.
Di depan Multatuli, perahu-perahu melintas membawa seonggok doa terbaik. Kanal, alur tulus menuju tujuan. Aku ingin berlayar menuju Hindia.
Aku takkan sampai ke Hindia, musim penghujan dengan gelegar petir mengundang badai. Di dermaga, aku menunggu musim baru di perahu tua.
Ku kirim pesan telepon: "Jika waktu adalah setia, setialah untukku tak mengenal waktu. Jika waktu adalah khianat, pergilah tanpa ucapan salam"
Setangkai hujan, semekar tulip. Dalam tuk-tuk suara knalpot mengetuk-ngetuk. Ya ini rindu, sesaat sentuh ingatan melintas kilat.
Kini tibalah perjalananku. Aku menemui penyair-penyair eksil. Mereka memetakan cinta Indonesia Raya, tapi cinta mereka tak pernah hilang komposisinya.
Hujan menemani percakapan kami, mungkin sebentar lagi reda. Dan kota mana yang harus aku singgahi untuk menempuh arah-mu?
Aku menghapus airmata, yang setiap masa-nya bercerita tentang kamu. Seperti hari ini, injury time aku menemui masa yang baru.
Maafkan aku, jalan menuju Hindia belum sempat terpikir kata-kata. Dengan Gipsy yang dinyanyikan pemusik Rumania menenangkanku dengan sederhana.
Aku akan disini! Takkan kutapaki Schipol, atau mendayung perahu tua untuh sampai Hindia. Aku yang slalu merindukanmu, semoga kau pahami kenapa aku disini!
Amsterdam, 2009
Langganan:
Postingan (Atom)